Empat bulan setelah pendaftaran diri saya sebagai anggota DPD RI. Pada awalnya Saya tidak yakin dengan diri saya sendiri. Dengan mempertimbangkan saya pernah menjadi guru di Ponpes As’ad beberapa tahun yang lalu, terakhir sebagai anggota KPU Kota Jambi dan keterlibatan secara tidak langsung di beberapa Ormas dan Okp serta kesiapan dari beberapa teman yang menyarankan agar saya mencalonkan diri untuk membantu, menjadikan saya saat ini sebagai salah satu calon Anggota DPD RI dapil Propinsi Jambi setelah beberapa waktu yang lalu tepatnya tgl. 31 Oktober 2008 telah ditetapkannya Daftar Calon Tetap ( DCT ) Anggota DPD RI oleh KPU.
Dalam diri saya, salah satu kekurangan yang sudah terbukti adalah kegelisahan kronis; ketidakmampuan untuk mengapresiasi, semua itu tidak masalah bagi saya dibandingkan dengan semua karunia yang telah diberikan kepada saya. Ini merupakan kekurangan yang menjadi endemik bagi kehidupan modern dan kekurangan yang tampak paling jelas dalam kehidupan politik. Sangat mungkin, konsekuensi dari kegelisahan itulah yang juga menyebabkan saya memutuskan untuk mencalonkan diri sebagai anggota DPD periode ini.
Saya telah melakukan apa yang harus dilakukan oleh setiap kandidat - pertama kalinya : Saya mengumpulkan dukungan pemilih minimal 2.000 dari pemilih yang dibuktikan dengan pernyataan dukungan dan photo copy KTP sebagai syarat dalam proses pencalonan serta lolos verifikasi faktual yang dilakukan oleh KPU sebagai pembuktian kebenaran bukti dukungan. Saya berbicara kepada setiap orang yang bersedia mendengar, saya pergi ke berbagai pertemuan yang telah dijadwalkan pada semua lapisan dan kelompok masyarakat dalam wilayah propinsi Jambi - Ke manapun saya pergi, saya selalu mendapatkan berbagai versi dari ungkapan yang sama - Kami sudah terlalu kecewa dengan sebagian besar anggota DPR / DPD maupun DPRD Prop / kabupaten kota selama ini - dan kami harap serta kami doakan anda tidak seperti mereka. Saya sudah akrab dengan ungkapan itu - sebuah ragam atas kekecewaan rakyat terhadap wakil mereka yang sudah mereka pilih pada periode yang lalu. Ungkapan tersebut menandai sinisme, bukan saja terhadap politik tetapi juga terhadap setiap gagasan tentang kehidupan publik. Sebuah sinisme yang setidaknya di berbagai daerah sepropinsi Jambi yang akan saya representasikan. Telah lama dipelihara oleh generasi tanpa harapan.
Sebagai jawabannya biasanya saya tersenyum lalu mengatakan bahwa saya memahami skeptisisme itu. Tetapi saya yakin, dan selalu yakin, akan ada tradisi politik yang lain, sebuah tradisi yang membentang dari masa yang lalu - di saat pendirian negara ini hingga kemenangan gerakan hak-hak sipil - Sebuah tradisi yang didasarkan atas gagasan sederhana bahwa kita memiliki ikatan satu sama lain, dan ikatan yang menyatukan kita jauh lebih kuat - dibandingkan sesuatu yang dapat memisahkan kita. Jika Ada cukup banyak orang yang percaya pada kebenaran proposisi itu dan bertindak sesuai dengannya - maka saya percaya kita tidak hanya dapat menyelesaikan setiap persoalan - tetapi kita juga mampu melakukan sesuatu yang lebih bermakna. Saya tidak yakin bahwa mereka yang mendengarkan penyampaian saya semuanya terkesan. Cukup banyak dari konstituen yang saya temui, mereka mengapresiasi kesungguhan dan semangat muda saya sehingga saya berhasil mengumpulkan pernyataan dukungan yang dibuktikan dengan photo copy KTP sebagai sarat pencalonan saya dan ditetapkannya saya sebagai calon anggota DPD RI periode 2009-2014 oleh KPU.
Ketika DCT calon anggota DPD beberapa waktu yang lalu ditetapkan, setelah saya mengetahui bahwa terdapat beberapa calon yang telah ditetapkan adalah wajah lama dan beberapa pelaku bisnis dengan membawa ide-ide untuk mendapatkan kembali kursi lamanya - melanggengkan usaha dan kepentingan mereka - menjadikan beberapa rencana yang sudah saya susun berhenti sementara, yang mungkin uang ratusan juta bahkan miliaran yang mereka miliki akan memecah suara dan kesempatan sekecil apapun yang telah saya dapatkan sebelum ini.
Saya tidak peduli, setelah terbebas dari semua ketakutan yang tak beralasan dengan berbagai harapan serta kredibilitas saya didukung oleh pendanaan yang membantu dari beberapa orang sahabat dan ketulusan dari beberapa masyarakat sehingga mereka membentuk mesin politik dengan sendirinya - mereka mengapresiasi kesungguhan dan semangat muda saya. Saya memasuki pertarungan ini dengan energi dan kesenangan yang belum pernah saya rasakan sebelumnya karena Saya dibantu oleh orang-orang di setiap tempat - daerah secara sukarela dan tanpa pamrih, nilai-nilai luhur inilah yang menumbuhkan semangat dan kesenangan yang luar biasa bagi saya.
Meskipun kebanyakan saya sosialisasi ke daerah bersama rombongan, tak jarang saya harus mengendarai mobil sendirian dari desa/kelurahan ke desa/kelurahan kemudian dari kecamatan ke kecamatan pada akhirnya hilir mudik ke kabupaten-kabupaten, tanpa jaringan komunikasi seperti di Kota, Saya hanya mengharapkan mesin politik saya di tiap-tiap daerah untuk mengatur jadwal pertemuan di daerah mereka masing-masing dan membukakan pintu rumah mereka sebagai tempat saya atau siapa pun orang yang membantu saya untuk menginap.
Tetapi apakah saya bertemu dua atau lima puluh orang, apakah saya berada dalam satu rumah yang terawat dengan baik ( rumah mewah ) atau rumah petani dan buruh, atau apakah orang orangnya ramah, acuh tak acuh, saya berusaha melakukan yang terbaik, tetap mendengarkan apa yang mereka katakan. Saya mendengar mereka membicarakan masalah pekerjaan, harga sembako dan BBM yang terus naik, harga jual karet dan sawit yang menurun, biaya sekolah yang sangat berat, tidak tersedianya lapangan pekerjaan serta kemarahan mereka terhadap pemerintah dan kawan-kawan anggota partai, DPR/DPD serta DPRD Propinsi dan kabupaten yang sudah duduk – tidak pernah peduli dengan nasib mereka. Ternak-ternak mereka, penyakit yang mereka derita, dan segala hal tentang lebih dan kurang mereka serta mahalnya biaya berobat yang mereka tidak mampu untuk membayarnya - sebagian besar dari mereka adalah pengangguran akibat tertutupnya lapangan pekerjaan mereka yang selama ini - kebanyakan dari mereka adalah buruh atau pekerja industri kayu. dan mereka tidak banyak memberi perhatian pada politik.
Yang saya terkejut adalah betapa sederhananya harapan mereka, dan seberapa besar tampaknya kepercayaan mereka berharap datangnya perubahan. Sebagian besar dari mereka berpikiran bahwa setiap orang yang ingin bekerja seharusnya mampu mendapatkan pekerjaan yang dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. Mereka percaya, setiap anak seharusnya mendapatkan pendidikan yang baik, bukan sekedar menjadi rangkaian pembicaraan - meski orang tua mereka tidak mampu dan itu adalah tanggung jawab negara.
Begitulah, tidak banyak. Dan meskipun mereka memahami bahwa bagaimana mereka menjalani kehidupan ini, sebagian besar tergantung upaya mereka sendiri, mereka tidak mengharapkan pemecahan seluruh persoalan mereka dari pemerintah - dan tentunya mereka juga tidak suka menyaksikan uang pajak yang mereka bayarkan dan pembagian hasil pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi dihambur hamburkan, tanpa mereka bisa menikmati dari semua itu sesuai harapan – dan hanya jadi penonton setiap hari sumber daya alam dan sumber daya ekonomi daerah dikeruk oleh perusahaan yang tidak pernah mengembalikan hak mereka – tidak pernah sadar bahwa sumber daya alam dan ekonomi yang perusahaan itu kelola adalah hak mereka dan bahkan mereka tak jarang harus menerima perlakuan yang tidak seharusnya dari perusahaan yang mengelola sumber daya alam dan ekonomi di daerah mereka. Mereka berpendapat pemerintah seharusnya mengutamakan kepentingan bersama – pemerintah seharusnya membantu dan berpihak kepada mereka.
Saya katakan kalau mereka memang benar: pemerintah tidak mungkin dapat menyelesaikan seluruh persoalan mereka. Tetapi dengan sedikit perubahan dalam skala prioritas kita dapat memastikan bahwa setiap warga berhak mendapatkan perlakuan yang layak dalam kehidupan – setiap rakyat berhak mendapatkan bagi hasil dari pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi daerah mereka, dan kita harus menghadapi tantangan sebagai sebuah bangsa. Syukur biasanya mereka setuju dan sependapat dengan saya - dan bertanya bagaimana cara mereka untuk membantu saya dan bagaimana mereka bisa dilibatkan untuk memenangkan saya. Dan pada saat saya kembali setelah pertemuan dengan mereka - saya menyadari mengapa saya terjun ke dunia politik dan inilah yang harus saya lakukan.
Seiring beberapa pertemuan yang saya lakukan dalam perjalanan kampanye - . pertemuan dengan para pemilih yang meneguhkan fundamental rakyat Indonesia, mereka juga mengingatkan saya bahwa dalam inti pengalaman Indonesia terdapat serangkaian cita-cita yang terus menerus mengarahkan kesadaran kolektif kita; serangkaian nilai-nilai bersama yang menyatukan kita meskipun kita berbeda; benang merah harapan yang membuat eksperimen mustahil kita dalam demokrasi akan berhasil. Nilai-nilai serta cita-cita ini menemukan ekspresinya bukan hanya dalam berbagai lempengan monumen pualam, atau buku sejarah. Nilai serta cita-cita itu tetap hidup dalam hati dan pikiran sebagian besar rakyat Indonesia – dan dapat menginspirasi kita pada kebanggaan, tugas, dan pengorbanan.
Saya mengakui banyak risiko berbicara seperti ini. Dalam era sekarang ini, politik yang membunuh dan perang budaya tak kunjung usai, bahkan tampaknya kita tidak memiliki bahasa bersama yang dapat digunakan untuk mendiskusikan cita-cita kita, tidak memiliki alat mencapai kesepakatan sederhana tentang bagaimana, sebagai sebuah bangsa, kita mungkin bekerja sama mewujudkan cita-cita itu. Sebagian besar dari kita sangat bijak dengan cara-cara yang dilakukan para pengiklan, pengumpul suara, penulis pidato, dan kaum terpelajar. Kita tahu bagaimana kata-kata yang melambung tinggi dapat disebarluaskan demi melayani tujuan sinis, dan bagaimana sentimen yang paling mulia dapat di subversi atas nama kekuasaan, kelayakan, ketamakan, atau intoleransi. Bahkan buku teks sejarah di sekolah berstandar tinggi pun mencatat tingkat sampai di mana, sejak permulaannya, realitas kehidupan bernegara telah menyimpang dari berbagai mitosnya. Dalam iklim semacam ini, setiap penegasan cita-cita atau nilai bersama, mungkin tampaknya sama sekali naif, jika bukan sangat berbahaya - sebuah upaya menutupi berbagai perbedaan serius dalam kebijakan, kinerja atau yang lebih buruk, sebuah cara untuk membungkam berbagai keluhan mereka yang merasa diabaikan oleh peraturan kelembagaan saat ini.
Akan tetapi argumen saya, kita tidak punya pilihan. Kita tidak membutuhkan sebuah jajak pendapat untuk mengetahui kalau sebagian besar warga negara walau berbeda partai, berbeda ras dan lapisan sudah letih dengan zona mati yang di ciptakan oleh politik, di mana berbagai kepentingan sesaat dan sementara bersaing mendapatkan keuntungan dan ideologi minoritas berusaha memaksakan versi kebenaran mutlak mereka sendiri. Apakah kita berasal dari berbagai etnis dan suku yang ada, kita merasakan sangat kurangnya kejujuran, kecermatan, dan akal sehat dalam berbagai debat publik yang kita lakukan, dan tidak menyukai apa yang tampak sebagai menu kepalsuan yang berkepanjangan atau pilihan-pilihan yang terkekang. Kita menyadari bahwa tantangan bangsa yang terpenting sedang diabaikan, dan bahwa jika kita tidak segera merubah cara itu, kita mungkin akan jadi generasi dalam sejarah yang membiarkan Indonesia lebih lemah dan lebih hancur daripada yang kita warisi. Mungkin lebih dari masa-masa sebelum ini, kita membutuhkan politik model baru yang dapat menggali dan membangun di atas pemahaman dan kepentingan bersama daripada kepentingan pribadi dan kelompok - model politik yang dapat menyatukan kita sebagai warga negara.
Sekarang bagaimana kita dapat memulai proses perubahan politik dan kehidupan kita sebagai warga negara. Saya sama sekali tidak bermaksud mengatakan kalau saya tahu cara melakukannya, pemerintahan sekarang salah, namun yang saya sampaikan di sini adalah refleksi-refleksi personal nilai dan cita-cita yang telah membimbing saya menuju kehidupan publik yang telah membimbing saya menuju dunia politik. Selain itu saya berharap beberapa pemikiran tentang tata cara yang dapat kita gunakan untuk mendasarkan politik kita pada gagasan tentang kemaslahatan atau kepentingan bersama dan tidak seharusnya memecah belah kita. Sekarang mari kita mulai bagaimana saya, atau publik figur manapun, harus menghindari perangkap popularitas, dahaga akan kesenangan, takut akan kehilangan, dan mempertahankan inti kebenaran, seyogyanya nurani dalam diri kita masing-masing senantiasa mengingatkan kita akan komitmen terdalam memperjuangkan dan mengembalikan hak-hak setiap warga negara tanpa terkecuali. Saya tidak yakin saya dapat bersikap jujur seperti sekarang apabila saya terpilih menjadi Anggota DPD RI, sangat menyenangkan bagi saya apabila saya terpilih saya masih bisa seperti ini, tiada daya upaya yang bisa saya lakukan kecuali memohon perlindungan dari Allah SWT untuk menyelamatkan saya apabila saya terpilih serta doa dari saudara / saudari agar Allah SWT menyelamatkan saya dan selalu memberi saya petunjuk apabila terpilih sangat saya harapkan.